Di pesisir utara Jawa, sebuah desa perlahan berdamai dengan air yang tak pernah surut. Kawasan Timbulsloko yang dulunya merupakan hamparan sawah dan tambak produktif, kini wajahnya berubah total. Rumah-rumah warga berdiri di atas panggung kayu, jalan-jalan desa telah menjadi jembatan papan yang membentang di atas genangan, dan perahu kecil menjadi kendaraan utama kala air pasang. Kunjungan ke kawasan ini memperlihatkan ketangguhan warga yang memilih bertahan di tengah keterbatasan, menolak pindah meski lahan tempat mereka berpijak kian hari kian menyempit diterjang abrasi dan rob.
Namun di tengah keterpurukan, hadir titik terang berupa rumah apung—sebuah adaptasi inovatif yang memungkinkan hunian tetap mengapung mengikuti naik-turunnya air. Teknologi sederhana ini menjadi napas baru bagi warga yang selama puluhan tahun hidup dalam genangan permanen. Kunjungan lapangan yang dilakukan secara berkala menunjukkan progres pembangunan rumah-rumah apung tersebut, lengkap dengan perbaikan prasarana penunjang seperti jalan panggung yang lebih kokoh. Kawasan rawan bencana ini kini perlahan bertransformasi menjadi laboratorium hidup adaptasi perubahan iklim, tempat warga, akademisi, dan berbagai kalangan bahu-membahu mencari solusi agar kehidupan dapat terus berjalan meski daratan telah berganti wajah menjadi lautan.
Estimasi biaya berdasarkan standar Kemenko Infrastruktur dan meliputi komponen: pembangunan infrastruktur dasar, perbaikan sanitasi, dan program pendampingan masyarakat.