Kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, telah bertransformasi menjadi laboratorium hidup solusi perumahan adaptif melalui pengembangan rumah apung dan rumah panggung yang mampu mengatasi banjir rob setinggi satu meter. Keberhasilan program ini ditandai dengan terbangunnya 200 unit hunian yang dilengkapi panel surya untuk kemandirian energi, teknologi desalinasi RO untuk air bersih, serta IPAL komunal dan insenerator untuk pengelolaan lingkungan. Inovasi paling strategis adalah fasilitas produksi paving block dari limbah cangkang kerang hijau yang tidak hanya menyelesaikan masalah ekologi tetapi juga membuka lapangan kerja baru. Lapangan futsal terapung dan ruang publik lainnya menjadi ikon keberhasilan transformasi kawasan kumuh menjadi permukiman modern yang tetap menghormati karakteristik alam pesisir.
Keberhasilan ini menjadikan Muara Angke sebagai destinasi studi tiru bagi berbagai daerah, khususnya kawasan Pantai Utara Jawa, yang menghadapi tantangan serupa. Warga setempat kini menjadi duta perubahan, menunjukkan bahwa permukiman pesisir bukan takdir kemiskinan dan ketidaklayakan. Program ke depan diarahkan pada pengembangan rumah panggung bertingkat untuk optimalisasi lahan dan penguatan ekonomi kreatif berbasis masyarakat. Muara Angke telah membuktikan bahwa kolaborasi lintas sektor dan pendekatan partisipatif mampu menciptakan model hunian pesisir yang adaptif, mandiri, dan berkelanjutan.
Estimasi biaya berdasarkan standar Kemenko Infrastruktur dan meliputi komponen: pembangunan infrastruktur dasar, perbaikan sanitasi, dan program pendampingan masyarakat.